Kondisi ketika ini kecenderungan perluasan areal kakao terus berlanjut, walaupun tidak setajam periode 1985-1995 yang laju perluasannya rata- rata diatas 20% pertahun, sedangkan pada periode 1995-2002 rata-rata hanya 7,5% pertahun.
Dengan kondisi areal yang ada dan problem serangan hama PBK serta penyakit VSD yang cenderung terus meluas maka produksi kakao nasional sanggup menurun dalam satu dasawarsa mendatang. Hal ini disebabkan karena peningkatan produksi dengan ekspansi areal ketika ini tidak sanggup mengimbangi penurunan produksi tumbuhan tua dan renta, serta serangan hama PBK dan penyakit VSD sudah menjadi ancaman bagi produksi kakao nasional. Oleh karena itu upaya perbaikan perlu segera dilakukan agar produksi kakao nasional sanggup dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Dengan kondisi areal yang ada dan problem serangan hama PBK serta penyakit VSD yang cenderung terus meluas maka produksi kakao nasional sanggup menurun dalam satu dasawarsa mendatang. Hal ini disebabkan karena peningkatan produksi dengan ekspansi areal ketika ini tidak sanggup mengimbangi penurunan produksi tumbuhan tua dan renta, serta serangan hama PBK dan penyakit VSD sudah menjadi ancaman bagi produksi kakao nasional. Oleh karena itu upaya perbaikan perlu segera dilakukan agar produksi kakao nasional sanggup dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Perbaikan perkebunan kakao dapat dilakukan melalui upaya rehabilitasi, peremajaan dan perluasan areal dengan bahan tanam unggul dan penerapan teknologi maju. Di samping itu, upaya pengendalian hama PBK dan penyakit VSD perlu terus digalakkan. Diharapkan dengan melakukan banyak sekali upaya perbaikan tersebut maka perluasan areal perkebunan kakao diharapkan terus berlanjut. Pada periode 2007-2010, areal perkebunan kakao diperkirakan masih tumbuh dengan laju2,5% pertahun sehingga total areal perkebunan kakao diharapkan mencapai 1.105.430 ha dengan total produksi730.000 ton. Pada periode 2010-2025 diharapkan pertumbuhan areal perkebunan kakao Indonesia terus berlanjutdengan laju 1,5% pertahun, sehingga total arealnya mencapai 1.354.152 ha pada tahun 2025 dengan produksi 1,3 jutaton.
Untuk mempercepat perbaikan tersebut di atas, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas Kakao). Gerakan ini akan diremajakan 70.000 ha, direhabilitasi 235.000 ha dan dilakukan intensifikasi terhadap 146.000 ha tumbuhan kakao di Sembilan provinsi yang mencakup 40 kabupaten pusat produksi kakao. Kebijakan pengembangan agribisnis kakao adalah sebagai berikut:
1. Intensifikasi kebun dengan mengelola penaung secara standard, melaksanakan pemangkasan, memupuk sesuai rekomendasi, dan mengendalikan organisme pengganggu;
2. Rehabilitasi kebun dengan menggunakan bibit unggul dengan teknik sambung samping dan sambung pucuk;
3. Peremajaan kebun tua/rusak dengan bibit unggul;
4. Perluasan areal pada lahan-lahan potensial dengan menggunakan bibit unggul;
5. Peningkatan upaya pengendalian hama PBK dan penyakit VSD;
6. Perbaikan mutu produksi sesuai dengan tuntutan pasar;
7. Pengembangan industri pengolahan hasil mulai dari hulu hingga hilir, sesuai dengan kebutuhan;
8. Pengembangan sub sistem penunjang agribisnis kakao yang meliputi: bidang usaha pengadaan sarana produksi, kelembagaan petani dan lembaga keuangan; dan
9. Pengembangan perjuangan tani terpadu dengan mengintegrasikan ternak pada perkebunan kakao.
Kesesuaian Lahan
Produksi kakao akan sangat ditentukan oleh kondisi lahan yang ada, potensi produksi yang dimiliki oleh suatu tumbuhan akan terekspresi dengan baik jika faktor lingkungan yang dibutuhkan sesuai. Tanaman kakao akan memperlihatkan tingkat produksi yang lebih baik apabila ditanam pada kondisi yang diinginkan oleh pertanaman kakao tersebut. Tingkat produksi pada lahan yang sesuai akan memperlihatkan tingkat produksi yang maksimal dibandingkan dengan lahan yang dibawah optimum Oleh lantaran itu lahan merupakan salah satu faktor pembatas yang sangat penting untuk pertanaman kakao. Tanaman kakao sanggup tumbuh pada kawasan 20° LU - 20° LS, namun kawasan pertanaman umumnya berada pada 7° LU -18° LS,
1. Tanah
Tanaman kakao umumnya sanggup tumbuh pada banyak sekali jenis tanah tergantung pada sifat dan fisika tanahnya. Kemasaman tanah (pH), kadar materi organik, unsur hara, kapasitas absorbsi dan kejenuhan basa merupakan sifat kimia yang perlu diperhatikan, sedangkan sifat fisik yang mencakup kedalaman efektif, tinggi permukaan air tanah, drainase, srtuktur dan konsistensi tanah. Selain itu, ketinggian tempat dan kemiringan lahan berlereng datar hingga dengan <8%, lereng optimum <2 %, sangat baik untuk pertanaman. Sedangkan untuk kemiringan yang lebih tinggi penanaman kakao harus berdasarkan garis kontur. Kemasaman tanah yang ideal untuk tumbuhan kakao ialah 6-7,5 dan materi organik tanah tinggi sangat sesuai untuk tumbuhan kakao. Tekstur tanah yang baik untuk tumbuhan kakao lempung liat berpasir dengan komposisi 30-40% fraksi liat, 50% pasir dan 10-20% debu. Tanaman kakao menghendaki solum tanah minimal 90 cm sehingga sanggup mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan kakao. Tanaman kakao tidak menghendaki adanya air yang menggenang oleh lantaran itu air ialah unsur yang penting bagi pertanaman. Ketersediaan air tanah terhadap kondisi drainase, serta ancaman banjir, harus menjadi perhatian untuk pengelolaan pertanaman kakao. Masalah hidrologi pada pertanaman kakao lebih berupa teknis pengaturan tata air/drainase yang berdampak eksklusif terhadap proses pertumbuhan tanaman, khususnya di lahan-lahan yang sering atau selalu tergenang.
2. Iklim
Curah hujan yang sesuai untuk pertanaman kakao adalah pada kisaran 1100-3000 mm, dengan distribusi curah hujan sepanjang tahun. Curah hujan diatas 4500 mm pertahun kurang baik untuk tumbuhan kakao karena kondisi hujsn menyerupai ini akan mendorong kelembapan yang tinggi sehingga akan sanggup menimbulkan penyakit bacin buah kakao yang merupakan penyakit utama pada tumbuhan ini. Daerah yang mempunyai curah huajn kurang dari 1200 mm per tahun masih sanggup ditanami kakao tentu dengan pengelolaan yang baik misal memperlihatkan naungan atau dibantu dengan air irigasi. Iklim yang edial untuk tumbuhan kakao ialah kawasan yang mempunyai tipe iklim A (menurut Koppen) atau B ( berdasarkan Schemidt dan Fergusson). Pola penyebaran hujan yang merata akan sangat kuat terhadap penyebaran panen pada tumbuhan kakao, sedangkan temperatur 30-320C. Kakao merupakan tumbuhan C3 (tanaman lindung) yang bisa berfotosintesis pada suhu rendah. Fotosintesis maksimum diperoleh pada ketika penerimaan cahaya pada tajuk sebesar 20% dari total pencahayaan penuh. Kejenuhan cahaya dalam berfotosintesis setiap daun yang telah membuka tepat berada dalam kisaran 3-30% cahaya matahari atau 15% cahaya matahari penuh. Hal ini berkaitan dengan proses membukanya stomata lebih besar jika cahaya matahari yang diterima lebih banyak. Persiapan Benih
Pada awalnya jenis kakao yang banyak ditanam ialah jenis criollo {fine flavour cocoa) sehingga kakao dari Indonesia populer bermutu baik (jenis edel cocoa/kakao mulia). Jenis ini memerlukan teknik budidaya yang intensif sehingga kakao mulia hanya diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara yang ketika ini terbatas di usahakan oleh PTPN XII di Jawa Timur. Kakao mulia mempunyai citarasa yang sangat baik sehingga kakao ini sangat dibutuhkan oleh para konsumen, dan dipasaran dunia edel cacao sangat diminati dengan harga yang sangat tinggi. Klon atau materi tumbuhan kakao mulia yang tersedia di Indonesia ialah DR 1, DR 2, DR 38, DRC 16 dengan tingkat produktivitas 1-1,5 ton biji kering/ha/th yang merupakan klon usulan usang dan yang merupakan klon gres ialah ICCRI 1 dan ICCRI 2 dengan potensi produktivitas 2 ton /ha/th. Ciri utama kakao mulia ini ialah kotiledone biji berwarna putih ketika masih segar dan jika sudah kering berwarna cerah, di pasaran dunia kakao ini dikenal dengan jenis penghasil biji kakao yang berkualitas tinggi. Untuk menghasilkan biji yang berkualitas tinggi yang mempunyai cita aroma yang khas perlu difermentasi, selain itu materi tanam yang digunakan harus klonal bukan berasal dari biji menyerupai kakao lindak yang umumnya dikembangkan oleh rakyat (95%).
Permasalahan yang sedang terjadi pada perkebunan kakao di Indonesia yang didominasi oleh perkebunan rakyat ketika ini ialah adanya serangan penyakit bacin buah dan VSD. Kedua penyakit ini merupakan penyakit utama tumbuhan kakao. Oleh karena, itu pemanfaatan dan penanaman kakao yang mempunyai ketahanan yang baik, produksi tinggi dan mutu baik sangat diperlukan.
Dalam rangka meningkatkan produksi, pengembangan tumbuhan kakao ketika ini memakai jenis bulk cocoa {Upper Amazone Hybride), lantaran relatif tahan terhadap hama dan penyakit, serta produksinya tinggi, meskipun rasanya tidak terlalu baik (sedang). Pembiakannya memakai biji turunan pertama (Fl), hasil silangan dari banyak sekali klon, diantaranya: DR 1 X SCA 6; ICS 60 X SCA 6; DR 1 X SCA 12; DR 36 X SCA 6; DR 2 X SCA 6; DR 38 X ICS 6; DR 2 X SCA 12
Klon kakao unggul yang sanggup digunakan sebagai materi pengembangan kakao di Indonesia
No | Nama Klon | Kelompok kakao | Potensi Produksi (ton) | Bobot 1 biji kering | Warna Biji Segar |
1 | DR1 | Mulia | 1,2 | > 1 g | Putih |
2 | DR2 | Mulia | 1,5 | > 1 g | Putih |
3 | DRC16 | Mulia | 1,5 | > 1 g | Putih |
4 | DR38 | Mulia | 1,5 | > 1 g | Putih |
5 | ICS60 | Lindak | 2,0 | > 1 g | Ungu |
6 | TSH 858 | Lindak | 2,0 | > 1 g | Ungu |
7 | GC7 | Lindak | 1.7 | > 1 g | Ungu |
8 | Sca 12 | Lindak | 1.0 | > 1 g | Ungu |
9 | UIT1 | Lindak | 1,7 | > 1 g | Ungu |
10 | Sca 6 | Lindak | 1.0 | < 1 g | Ungu |
11 | Sulawesi 1 | Lindak | 2,0 | < 1 g | Ungu |
12 | Sulawesi 2 | Lindak | 2.0 | < 1 g | Ungu |
13 | ICS13 | Lindak | 1.7 | > 1 g | Ungu |
14 | PA 300 | Lindak | 1.3 | > 1 g | Ungu |
15 | DRC 15 | Mulia | 1,5 | > 1 g | Putih |
16 | RCC 70 | Lindak | 1,5 | > 1 g | Ungu |
17 | RCC 71 | Lindak | 1,5 | > 1 g | Ungu |
18 | RCC 72 | Lindak | 1,5 | > 1 g | Ungu |
19 | RCC 73 | Lindak | 1,5 | > 1 g | Ungu |
20 | ICCRI 01 | Mulia | 2,5 | > 1 g | Putih |
21 | ICCRI 02 | Mulia | 2,5 | > 1 g | Putih |
22 | ICCRI 03 | Lindak | 2,5 | > 1 g | Ungu |
23 | ICCRI 04 | Lindak | 2,5 | > 1 g | Ungu |
Sumber: Puslit Koka, 2008.
Tanaman kakao bisa diperbanyak secara generatip (dengan biji) atau secara vegetatip (dengan setek atau okulasi), namun yang banyak digunakan ialah perbanyakan dengan biji.
Mempersiapkan biji
Biji diambil dari buah yang telah matang, namun pulpnya belum kering. Biji yang diambil yang berada pada 2/3 potongan tengah dari buah (biji ari pangkal dan ujung dibuang). Berat biji berikut pulpnya ± 2,5 gr/butir. Biji terpilih dibersihkan dari pulpnya dengan jalan menggosok biji dengan debu dapur, atau direndam dalam air kapur (25 g/L) selama 20 menit kemudian digosok dengan tangan. Biji yang telah higienis dilumuri dengan Dithane M-45, kemudian dijemur sebentar.
Pengecambahan
Pengecambahan bisa dilakukan pada bedengan atau kolam pengecambahan berisi pasir. Bedengan pengecambahan berukuran tinggi (tebal pasir) 20 cm, lebar 1,5 m, dan panjang sesuai kebutuhan. Bedengan dibentuk arah utana-selatan dan diberi atap miring terbuat dari pelepah kelapa atau alangalang dengan tinggi atap 2 m (sebelah timur) dan 1,2 m (sebelah barat);
Biji ditanam tegak dengan jarak 3 x 5 cm, dibenamkan 2/3 potongan dengan bakal akar berada di potongan bawah. Biji yang telah ditanam ditutupi dengan karung goni, dan penyiraman dilakukan di atas karung goni. Setelah 4-5 hari, biji telah berkecambah dan karung epilog bisa dibuka;
Pembibitan/pendederan
Kecambah yang telah berumur 21 hari (atau bisa juga berumur 4 -5 hari) kemudian dipindahkan ke tempat pembibitan. Pembibitan biasanya memakai polybag berukuran 25 x 30 cm, yang diisi tanah lapisan olah (top soil).. Bibit ditanam ditengah-tengah polibag, kemudian polybag disusun pada bedengan yang lebarnya 1,5 m dan diberi naungan.
Pemeliharaan bibit meliputi:
(1) penyiranam, dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore;
(2) penyemprotan dengan insektisida Ekalux atau Orthene (0,3-0,5 %) dan fungisida Dithane (0,2- 0,3%) dilakukan semunggu sekali
(3) penjarangan naungan, dimulai umur 2-2,5 bulan (sebanyak 50 %)
(4) pemupukan, dilakukan sesudah bebet berumur 2 minggu, dengen jenis dan takaran sbb:
Umur | Jenis Pupuk | Dosis | Aplikasi | |
Bulan | Minggu | |||
I | II | Bayfolan 0.2 % | 2 L/100 bibit | Pada daun |
II | I | Bayfolan 0.2 % | 3 L/100 bibit | Pada daun |
II | Bayfolan 0.2 % | 4 L/100 bibit | Pada daun | |
III | Bayfolan 0.2 % | 6 L/100 bibit | Pada daun | |
III | I | Compound (20-12-5-2) | 2 g/tanaman | Ke dalam tanah, 3 cm dari batang |
II | Compound (20-12-17-2) | 5 g/tanaman | sda | |
III | Compound (20-15-5-2) | 5 g/tanaman | sda | |
Seleksi bibit, dilakukan untuk memisahkan bibit yang kurang baik, yaitu yang memperlihatkan gejala: terlalu tinggi atau terlalu pendek/kecil; rusak lantaran karena lain menyerupai bengkok, patah, dsb; bibit yang bercabang.
Artikel terkait:
Mengenal Tanaman Kakao
Artikel terkait:
Mengenal Tanaman Kakao
Komentar
Posting Komentar